Pohon Multiguna (Multi Purpose Tree Species).
Pohon Kepayang dengan Fungsi
Lindung dan Ekonomi.
Oleh Supin Yohar. (Yayasan Genesis Bengkulu).
......................................................................................
Pangium
edule
Reinw. ex Blume merupakan
tumbuhan yang dikenal dengan nama Kepayang, Kluwek, Keluwek, Keluak, atau Kluak. Pohon Pangium edule Reinw. ex Blume termasuk suku
Achariaceae, yang dulunya dimasukkan
dalam suku Flacourtiaceae. Tumbuhan ini berbentuk pohon yang tumbuh liar atau
setengah liar, umumnya tumbuh di daerah dataran tinggi, dan dapat ditemukan
tumbuh alami/liar di sekirat daerah aliran sungai. Orang Sunda menyebutnya Picung/Pucung atau Kepayang
dan di Toraja disebut Panarassan.
Kepayang termasuk kelompok pohon besar, menyebar
luas di dataran rendah sampai ke daerah perbukitan, tinggi
pohon dapat mencapai 25 meter. Kayu tanaman ini juga bernilai ekonomi, dengan berat
jenis 450-1000 kg/m-3 atau termasuk dalam kayu pertukangan, dikelompok kayu kelas II dengan keawetan sedang.
Tumbuhan Kepayang ditemui umum di hutan daeratan tinggi dan rendah di
Indonesia, termasuk di pulau sumatera. Tumbuhan ini umum tumbuh di wilayah
Bentang Alam Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan hutan penyangganya. Salah
satunya di hutan negara dan hutan masyarakat di Kabupaten Mukomuko, dapat di
temui di sekitar Desa Talang Buai, Sungai Ipuh, Sungai Gading Kecamatan Selagan
Raya.
Pohon dengan Fungsi Konservasi
Indonesia memiliki keanekaragaman (biodiversity) tumbuhan dan hewan yang tinggi, baik di daerah
dataran rendah, dataran tinggi maupun pegunungan.
Dari berbagai jenis tumbuhan yang ada, berberapa jenis memiliki nilai konservasi
terutama karena memiliki fungsi ekologi yang tinggi dibandingkan jenis lainnya.
Tumbuhan yang memiliki
nilai dan fungsi ekologi antaralan memiliki perakaran yang kuat, tajuk yang
rindang dan dapat bersembiosis secra mutualisme dengan tumbuhan lain di
sekitarnya. Dapat memperbaiki lingkungan
khususnya iklim mikro, mampu menetralisasi polusi udara, khususnya gas beracun
dan CO2, dan ditapak tumbuhnya ada organisme tanah yang menguntungkan seperti
cacing. Yulistyarini (2000) dalam tulisannya menjelaskan tumbuhan konservasi antaralain memiliki
karakteristik; pertumbuhan cepat, perakaran dalam, dapat menambah organik
tanah, dapat memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air hujan
yang jatuh.
Berdasarkan pengamatan di
lapangan Pohon Kepayang memiliki beberapa karakteristik tumbuhan konservasi.
Karakteristik Pohon Kepayang antaralain;
1. Memiliki Perakaran kuat yang mampu menahan tanah sehingga mengurangi
kerentanan terhadap erosi dan longsor serta memperbaiki pori tanah. Dapat
tumbuh baik di pinggir sungai dan daerah terjal.
2. Perutubuhan cepat, mudah
dikembangbiakan, tahan hama penyakit, bentuk pohon dan bertajuk rindang.
3. Memiliki daur hara yang baik dan
dapat menambah organik tanah. Dekomposisi serasah daun, ranting, bunga dan buah
dapat terjadi dalam jangka pendek.
4. Dapat bersimiosis mutualisme dengan
tanaman lain. Dapat tumbuh bersama
dengan tanaman lain, baik tanaman pohon
maupun tumbuhan bawah di lokasi yang sama. Tidak bersifat mendominasi, walaupun belum ada
penelitian yang membuktikan bahwa
perakaran pohon Kepayang tidak memiliki zat
alilopati yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya.
5. Menyediakan bahan organik tanah
sehingga organisme tanah dapat hidup. Cukup banyak ditemukan organisme tanah
pada tumpukan sarasah di bawah pohon kepayang
seperti cacing dan serangga tanah.
6. Mampu memperbaiki iklim mikro dan
dapat berfungsi baik dalam perbaikan kualitas udara. Berdaun lebat, hijau dan tidak memiliki musim
gugur daun.
Selain memiliki fungsi ekologi dalam perbaikan lingkungan Pohon
Kepayang juga memiliki nilai sosial budaya bagi masyarakat di sekitar Taman Nasional
Kerinci Sebelat, seperti di Kabupaten Merangin
Propinsi Jambi, Kabupaten Mukomuko Propinsi Bengkului dan Solok Selatan
Propinsi Sumatera Barat. Kearifan-kearifan adat yang punya nilai konservasi
antaralain; Masyarakat mengenal Pohon Kepayang sebagai tanaman nenek moyang
yang harus dijaga dan dilestarikan. Bahkan ada yang memiliki aturan tentang
pemanfaatan dan budidaya tanaman ini.
Pohon Kepayang memiliki
kedekatan emosional karena banyak kebutuhan hidup yang diperoleh dari Pohon Kepayang. Masyarakat mengenal Kepayang menghasilkan buah yang dapat konsumsi, daun dan kulit batang dapat
dimanfaatkan untuk mengawetkan ikan,
sebagai racun organik/tradisional, obat luka pada ternak dan obat untuk
membuang kutu pada berberapa hewan peliharaan.
Disamping itu, walaupun
kualitas kayunya tidak terlalu kuat, Pohon Kepayang juga menjadi cadangan kayu untuk
pertukangan. Biasanya sebelum memanfaatkan kayu Kepayang
masyarakat menyiapkan tanaman pengganti dan
setelah tanaman berumur 2-3 tahun pohon
induknya ditebang.
Dampak lingkungan dari Pohon Kepayang sangat signifikan. Sebagai spesies hutan
asli, Pangium edule tumbuh selaras
dengan ekosistem alami di sekitar Taman Nasional Kerici Sebelat. Berkembang di hutan matang maupun sekunder dan
meningkatkan produktifitas lahan pada sistem agroforestri campuran. Mendukung
masyarakat untuk meningkatkan manfaat positif
yang ekonomis dari
hasil hutan lestari. Hal ini tentu akan memainkan peran penting
dalam meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat komitmen masyarakat dalam melestarikan kawasan hutan. Secara luas, Ekosistem buatan ini akan menjadi
ruang bagi spesies langka dan terancam punah. Spesies seperti harimau
Sumatera yang terancam punah yang bergantung pada hutan untuk kelangsungan
hidup mereka dan berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim.
Pohon Bernilai Ekonomi
Dalam pola pembangunan
hutan berbasis masyarakat, pemilihan jenis seperti Kepayang (Pangium edule) sangat di
minati, karena jenis ini memiliki nilai ekonomi selain konservasi atau di sebut
jenis tanaman Multi
Purpose Tree Species (MPTS)
atau tanaman multi guna. Tanaman
MPTS adalah
jenis tanaman serba guna yang dapat diambil buah, bunga, kulit dan daunnya. Berberapa pohon dalam kelompok ini misalnya; Manggis
(Garcinia mangostana), Durian
(Durio zibethinus), Karet (Hevea
braziliensis), Kemiri (Aleurites mollucana), Alpukat (Persea
americana), Cempedak (Arthocarpus champeden),
Cengkeh (Eugenia aromatica), Jambu mete (Anacardium
occidentale), Jengkol (Pithecolobium lobatum), Kayu manis (Cinnamomum
ceilanicum, Kenanga (Cananga odorata), Lengkeng (Nephelium longan),
Mangga (Mangifera indica), Nangka (Arthocarpus sp), Rambutan (Nephelium
lapaceum), Sukun (Arthocarpus communis), dan lain-lain.
Dalam Peraturan Menteri
Kehutanan Nomor 03 tahun 2004, dijelaskan untuk kegiatan kehutanan yang
berbasis masyarakat,
direkomendasikan jenis pohon yang dipilih
selain jenis MPTS juga memperhatikan TUL (Tanaman Unggul Lokal). Tanaman lokal akan
sesuai dengan kondisi alam dan situasi
sosial budaya daerah setempat. Karena secara
ekonomi tanaman diharapkan menjadi sumber produksi untuk
memenuhi kebutuhan baik kebutuhan pokok maupun sekunder, langsung ataupun tidak
langsung.
Bagi masyarakat di
sekitar Taman Nasional Kerinci Sebelat, buah kepayang diolah menjadi berbagai
macam produk, namun umumnya diolah menjadi minyak Kepayang atau sayur. Sedang ampas (kruwi)
sisa pembuatan minyak sebagai pakan ikan atau sebagai obat nyamuk bakar. Dan manfaat lainnya, Kulit manis batang
digunakan untuk obat dalam mengeringkan luka pada manusia dan ternak, obat ini
sangat diminati karena saat dioleskan tidak terasa perih atau sakit melainkan
terasa dining.
Kebanyakan pemakaian Pangium edule didasarkan pada adanya
asam sianida pada semua bagian tanaman mulai dari biji, buah, daun, kulit kayu
atau akar. Daun segar, getah daun, tumbukan daun dan tumbukan biji digunakan
sebagai antiseptik dan disinfektan untuk membersihkan luka dari luar. Biji muda
dapat digunakan sebagai insektisida melawan kutu kepala, kutu ternak dan
sebagai pengendali hama pertanian (serangga). Daun segar dapat digunakan dalam
mengawetkan daging untuk beberapa hari, kesegaran daging tetap terjaga dan terhindar
dari serangga. Secara umum berberapa bagian dari kepayang yang telah
dimanfaatkan oleh masyarakat antaralain :
a) Biji yang tidak masak ditumbuk dan dihaluskan
dapat digunakan untuk mengawetkan ikan supaya tetap segar, atau usus ikan
dibuang dan diganti dengan tumbukan biji picung yang belum masak.
b) Kulit kayu atau biji yang muda dapat
digunakan sebagai racun ikan, sementara itu tumbukan daunnya digunakan untuk
menyimpan udang. Kelebihannya, racun
kepayang mudah dihilangkan dengan cara
mencuci, merendam dan membakarnya atau dipermentasikan.
c) Untuk obat dapat digunakan minyak kepayang
yang masih mengandung asam sianida.
d) Biji masak dapat diolah sebagai kluwak, yang merupakan
bumbu dapur seperti rawon.
e) Getah kayunya kuning, dengan bau yang tidak enak, agak keras tetapi cukup
awet, dapat digunakan untuk konstruksi
bangunan.
f) Tempurung biji Kepayang dapat
digunakan sebagai bahan baku arang aktif atau pengganti kayu bakar. Diberberapa
tempat tempurung biji diolah menjadi
supenir seperti gantungan kunci.
g) Minyak kepayang yang dihasilkan dari
biji telah diolah dan tidak
mengandung asam sianida dapat digunakan sebagai minyak sayur pengganti
minyak kelapa.
Sayangnya, walaupun
memiliki manfaat banyak,
nilai ekonomi Kepayang masih diukur dari pasar lokal, belum ada upaya
pengembangan untuk tingkat nasional apalagi intrenasional. Disatu sisi ini
merupakan peluang dalam mengembangkannya. Manfaat yang tinggi tentu jika
dipromosikan akan sangat diminati, sehingga nilai ekonominya pun meningkat.

Komentar
Posting Komentar