Nelayan khawatirkan dampak PLTU 200 Mw
Rabu, 25 Mei 2016 16:47 WIB
Bengkulu- Para nelayan di Kelurahan Teluk Sepang Kota Bengkulu
mengkhawatirkan dampak pencemaran dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)
dengan kapasitas 200 Megawatt yang akan dibangun investor asal Tiongkok di
kompleks Pelabuhan Pulai Baai.
"Warga
mulai bertanya-tanya apa dampak pencemaran pembangunan PLTU di kompleks
Pelabuhan Pulau Baai, terutama untuk wilayah penangkapan ikan," kata Ketua
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Teluk Sepang, Hamidin di
Bengkulu, Rabu.
Ia
mengatakan lokasi pembangunan PLTU yang berada di kompleks pelabuhan
dikhawatirkan mengganggu zona tangkap nelayan di wilayah itu.
Hamidin
menambahkan dari 6.000 jiwa penduduk Kelurahan Teluk Sepang, hampir 40 persen
berprofesi sebagai nelayan dan sisanya berkebun dan buruh di Pelabuhan Pulau
Baai.
Pihak
penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) menurut dia tidak
memaparkan secara rinci dampak pembangunan PLTU yang lokasinya hanya berjarak 2
kilometer dari permukiman mereka.
Sebelumnya,
perusahaan swasta PT Tenaga Listrik Bengkulu menandatangani nota kesepahaman
bersama dengan PT Pelindo II tentang rencana pembangunan dan pengoperasian PLTU
berdaya 2 x 100 Mw di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.
Presiden
Komisaris PT Tenaga Listrik Bengkulu, Petrus Halim mengatakan, pembangunan
konstruksi ditargetkan mulai awal 2017 dan siap menyala pada 2020. Batu bara
yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit tersebut sebanyak 1 juta ton
per tahun yang dipenuhi dari produksi batu bara lokal Bengkulu.
(Antara Bengkulu)
Komentar
Posting Komentar