Banjir di Rejanglebong diduga akibat perambahan hutan
Selasa, 19 April 2016 01:05 WIB
Rejanglebong - Para petani di
Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu, menduga
banjir yang merusak sawah mereka pada Sabtu (16/4) malam akibat perambahan
hutan di daerah itu.
"Kali Musi ini 10 tahun yang lalu juga meluap dan merusak puluhan hektare sawah dan tahun 2016 ini kembali terjadi, kasusnya hampir sama," kata Tarmizi (37) warga Desa Batu Panco, Kecamatan Curup Utara yang sawahnya mengalami kerusakan.
"Kali Musi ini 10 tahun yang lalu juga meluap dan merusak puluhan hektare sawah dan tahun 2016 ini kembali terjadi, kasusnya hampir sama," kata Tarmizi (37) warga Desa Batu Panco, Kecamatan Curup Utara yang sawahnya mengalami kerusakan.
Banjir akibat meluapnya Kali Musi yang
melintasi desa tersebut, kata dia, sebelumnya pada 2006 lalu juga pernah
terjadi. Saat itu Kali Musi yang menjadi pertemuan dua sungai, yakni Sungai
Dendan dan Sungai Air Pikat meluap dan merusak tanaman padi hingga puluhan
hektare sawah petani.
Hal yang sama juga diutarakan Adil (35)
yang sawahnya seluas 1 hektare ikut rusak dan berharap agar Pemkab Rejanglebong
dan dinas terkait dapat membantu mereka, karena petani di wilayah itu sebagian
besar merupakan petani penggarap dengan sistem bagi hasil.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian Rejanglebong Zulkarnain mengatakan, dirinya sudah memerintahkan pihak BPBD setempat guna mengecek dan mendata jumlah kerugian yang dialami petani di Desa Batu Panco akibat banjir yang melanda kawasan itu.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian Rejanglebong Zulkarnain mengatakan, dirinya sudah memerintahkan pihak BPBD setempat guna mengecek dan mendata jumlah kerugian yang dialami petani di Desa Batu Panco akibat banjir yang melanda kawasan itu.
Sebelumnya, hujan deras yang terjadi di
wilayah Rejanglebong Sabtu malam (16/4) mengakibatkan 10 hektare sawah di Desa
Batu Panco, Kecamatan Curup Utara rusak dan terancam gagal panen akibat
meluapnya Kali Musi.
Akibat kejadian ini, kalangan petani di Desa Batu Panco diperkirakan mengalami kerugian hingga mencapai Rp80 juta akibat rusaknya tanaman padi yang sudah berumur 3,5 bulan. Selain itu satu ekor indukan kerbau milik warga yang bernama Kartubi dan ditaksir seharga Rp20 juta akhirnya mati.
Akibat kejadian ini, kalangan petani di Desa Batu Panco diperkirakan mengalami kerugian hingga mencapai Rp80 juta akibat rusaknya tanaman padi yang sudah berumur 3,5 bulan. Selain itu satu ekor indukan kerbau milik warga yang bernama Kartubi dan ditaksir seharga Rp20 juta akhirnya mati.
(Antara Bengkulu)
Komentar
Posting Komentar