KAUR (3/3/14) "Hari ini rafflesia bengkuluensis kembali mekar,"
kata Sofian Ramadhan
dalam pesan singkatnya yang saya terima, Minggu pagi.
Tak lama berselang, sebuah foto bunga rafflesia berwarna
merah pucat
masuk ke dinding akun "facebook" milik saya.
"Kami sudah melihat langsung habitatnya di lembah
Sungai Padang Guci,
masih banyak calon bunga lain yang siap mekar," tulis
Sofian di kolom
komentar dalam foto itu.
Sofian yang merupakan Koordinator Komunitas Peduli Puspa
Langka (KPPL)
memang rutin mengabarkan ke sejumlah pewarta bila ada bunga
langka yang
mekar di kawasan hutan Bengkulu.
Termasuk bunga Rafflesia bengkuluensis yang mekar di hutan
dekat Desa
Manau Sembilan Kecamatan Padang Guci, Kabupaten Kaur,
berjarak 200
kilometer dari Kota Bengkulu.
Bunga langka itu awalnya ditemukan warga desa setempat, lalu
informasi
menyebar hingga salah seorang guru bantu bernama Nopri Anto
meneruskan
informasi ke Sofian Ramadhan.
"Ini unik, karena bunga rafflesia jenis bengkuluensis
belum pernah kami
temukan di habitatnya, baru lihat di foto," ujar Sofian
saat ditanya
lebih lanjut.
Rafflesia bengkuluensis pertamakali diidentifikasi oleh tiga
akademisi
yakni Agus Susatya dari Universitas Bengkulu dan dua lainnya
Arianto dan
Mat-Salleh, dari salah satu universitas di Malaysia.
Penemuan jenis bengkuluensis membuat pakar menyimpulkan
bahwa di hutan
Bengkulu terdapat empat jenis rafflesia yakni arnoldii,
bengkuluensis,
hasselti dan gadutensis.
Nopri Anto, warga Desa Manau Sembilan saat dihubungi dari
Bengkulu
mengatakan Rafflesia bengkuluensis sering mekar di kawasan
hutan di
lembah Sungai Padangguci itu.
"Oleh masyarakat itu sudah biasa, bunga sekedei namanya
kalau dalam
bahasa lokal," kata dia.
Namun, bagi guru bantu di SD Negeri 8 Desa Manau Sembilan
ini, bunga
tersebut sangat menarik perhatiannya. Bahkan ia mencari
informasi di
dunia maya untuk mengetahui bunga itu.
Merasa bahwa bunga tersebut benar-benar unik dan langka,
Nopri mengontak
anggota komunitas peduli puspa langka Bengkulu dan berhasil
mendapat
informasi utuh tentang rafflesia.
"Setelah kami mencari informasinya di internet,
ternyata bunga ini
benar-benar langka dan dilindungi," ujarnya.
Nopri dan pemuda setempat bertekad melestarikan puspa langka
itu dengan
membentuk komunitas yang diberi nama Komunitas Pemuda Padang
Guci Peduli
Puspa Langka.
Rimba Kaur
Pakar flora raflesia dari Universitas Bengkulu Agus Susatya
mengatakan
bahwa kawasan hutan di Kabupaten Kaur, Bengkulu, merupakan
salah satu
lokasi habitat Rafflesia bengkuluensis.
"Hutan Kaur memang lebih spesifik untuk habitat jenis
bengkuluensis,"
kata penemu Rafflesia bengkuluensis ini.
Pada tahun 2005, dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian
Universitas
Bengkulu ini bersama Arianto dan Mat-Salleh, dua orang dosen
di salah
satu universitas di Malaysia, mengidentifikasi satu jenis
bengkuluensis.
Agus mengatakan bunga rafflesia jenis bengkuluensis yang
mereka
identifikasi tersebut berasal dari Talangtais, berjarak 7
kilometer dari
Tanjungkemuning Kecamatan Padang Guci, Kaur.
Bunga rafflesia yang ditemukan warga di sekitar Desa Manau
Sembilan itu,
setelah diperiksa ramentanya, atau bulu-bulu bagian dalam
bunga,
dipastikan jenis bengkuluensis.
Menurutnya ada beberapa cara untuk mengidentifikasi jenis
rafflesia
dimana perbedaan bagian ramenta yang paling menentukan.
"Ramenta bengkuluensis lebih pendek dan lebih kecil
dibanding jenis
`Rafflesia arnoldii`," ucapnya.
Perbedaan lain tambah dia terdapat pada bagian perigon atau
kelopak
bunga dimana pada jenis arnoldii warna perigon lebih merah
tegas,
sedangkan pada bengkuluensis berwarna merah muda.
Demikian juga ukuran perigon, pada jenis arnoldii lebih
besar dibanding
jenis bengkulueensi, termasuk bercak putih pada perigon di
arnoldii
lebih kontras dibanding bercak pada bengkuluensis.
"Termasuk ukuran atau diameter bunga, pada arnoldii
lebih besar antara
50 cm hingga 100 cm, sedangkan bengkuluensis sekira 30
hingga 50 cm,"
ujarnya.
Agus mengatakan perlu perhatian lebih serius terhadap masa
depan puspa
langka di Bengkulu, termasuk empat jenis rafflesia yang
tumbuh di
hutan-hutan di wilayah itu.
Perambahan hutan atau alih fungsi kawasan hutan menjadi
permukiman dan
perkebunan, menjadi ancaman utama kelestarian flora unik
yang menjadi
ikon Bengkulu itu. (Antara)

Komentar
Posting Komentar